Saturday, August 7, 2010

Cara Nabi Mendidik Anak (Bahagian 3)

Bab 3 : Cara-cara Nabi Mendidik Anak


Pertama : Panduan Dasar untuk Orang Tua dan Pendidik


  • Keteladanan
  • Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Oleh karena itu,Rasulullah SAW memerintahkan agar oranng tua bersikap jujur dan menjadi teladan kepada anak-anak mereka. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa berkata kepada anaknya, “Kemarilah!(nanti kuberi)’ kemudian tidak diberi maka ia adalah pembohong (HR.Ahmad dari Abu Hurairah) Orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan Sunah Rasul-Nya, menyangkut perilaku dan perbuatan. Karena anak melihat mereka setiap waktu. Kemampuan untuk meniru sangat besar.


  • Memilih waktu yang tepat untuk menasehati
  • Rasulullah SAW selalu memperhatikan waktu dan tempat untuk menasehati anak-anak, agar hati anak-anak dapat menerima dan terkesan oleh nasehatnya. Sehingga mampu meluruskan perilaku mereka yang menyimpang dan membangun kepribadian yang bersih dan sehat. 3 pilihan waktu yang dianjurkan : Saat berjalan-jalan atau di atas kendaraan Waktu makan Ketika anak sedang sakit


  • Bersikap adil dan tidak pilih kasih
  • “Bertakwalah kepada Allah dan bersikaplah adillah terhadap anak-anak kalian “ (HR. Muslim) “Orang yang bersikap adil akan (dimuliakan) di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, iaitu orang yang adil dalam hukumnya, (adil) terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin (HR. Muslim)


  • Memenuhi hak-hak anak

  • Mendoakan anak

  • Membelikan mainan

  • Membantu anak agar berbakti dan taat
  • “Bantulah anak-anakmu agar berbakti! Barangsiapa yang mahu melakukannya, ia dapat mengeluarkan sikap kedurhakaan dari diri anaknya (HR. Thabrani)


  • Tidak banyak mencela dan mencaci


  • Kedua : Cara Efektif Mengembangkan Pemikiran Anak

    • Menceritakan kisah-kisah terutama kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an dan Al-Hadist.
    • Berbicara langsung, Rasulullah mengajarkan kepada kita agar berbicara dengan anak secara langsung, lugas dan dengan bahasa yang jelas.
    • Berbicara sesuai dengan kemampuan akal anak
    • Berdialog dengan tenang
    • Metode praktis empiris
    • Dengan cara mendidik dan mengasah ketajaman indera anak.
    • Kebutuhan anak terhadap figure riil, Yakni Rasulullah SAW

    Ketiga : Cara efektif membangun jiwa anak

  • Menemani anak
  • Menggembirakan hati anak
  • Membangun persaingan sihat dan memberi imbalan kepada pemenangnya
  • Memotivasi anak
  • Memberi pujian
  • Bercanda dan bersenda gurau dengan anak
  • Membangun kepercayaan diri seorang anak
  • Mendukung kemahuan anak Membangun kepercayaan sosial
  • Membangun kepercayaan ilmiah
  • Bermula dengan mengajarkan Al-qur’an, hadist dan sirah nabawiyah
  • Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan
  • Dengan melatih anak melakukan praktik jual beli, mengajaknya ke pasar dan membiarkannya membeli barang yang diinginkannya.
  • Panggilan yang baik
  • Memenuhi keinginan anak
  • Bimbingan terus menerus
  • Dibanding semua mahluk hidup, masa kanak-kanak manusia adalah paling panjang.
    Ini semua kehendak Allah, agar cukup waktu mempersiapkan diri menerima taklif (kewajiban memikul syariat)

  • Bertahap dalam pengajaran
  • Seperti ketika mengajarkan solat. Dalam hadist dikatakan : “Perintahkanlah anakmu untuk solat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan solat) ketika berumur 10 tahun. Imbalan dan hukuman (Reward and punishment)

    dr. Ariani, http://parentingislami.wordpress.com

    No comments:

    Post a Comment

    Jom baca ini juga ...

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Catatan Anda Dihargai... Terima Kasih :)

    Siapakah Penulis Yang Baik?

    Penulis yang baik adalah yang penulisannya memberikan kesan kepada jiwa insan. Seterusnya, penulis itu mampu menjadi inspirasi, contoh, qudwah kepada pembacanya.

    Akhirnya sekali, dia tidak akan hanya tersekat dalam alam penulisan, bahkan di alam realiti dia tetap mampu menjadi satu model kepada ummat.

    Penulis Yang Terbaik

    Tips 1: Hubungan Dengan Allah SWT

    Ya, hubungan dengan Allah SWT. Seorang yang hendak menjadi penulis yang terbaik perlulah menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Mencintai perintah-Nya dan melaksanakannya. Membenci kemungkaran ke arah-Nya dan mencegahnya. Tidak melekatkan diri kepada apa yang Allah murka dan sentiasa berusaha mempertingkatkan kualiti diri di hadapan-Nya.

    Kenapa hubungan dengan Allah SWT itu diletakkan yang pertama?

    Banyak sebab. Tapi, antara sebab yang utama adalah, kita hendak menulis sesuatu yang memberi kesan pada jiwa insan. Justeru, apakah logik kita tidak meminta kepada Yang Membolak Balikkan Jiwa Insan? Kita perlu sedar bahawa, Allahlah TUAN kepada Hidayah. Bukankah adalah perkara yang normal kita tunduk kepada-Nya agar dia membantu kita? Sedang kita ini tidak mampu memberikan hidayah walau kepada orang yang kita cintai.


    Sesungguhnya kau tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai, tetapi Allah lah yang memberikan hidayah kepada sesiapa yang dia kehendaki…” Surah Al-Qasas ayat 56.

    Tips 2: Kerendahan Hati
    Seorang yang ingin menggerakkan dirinya menjadi penulis yang baik, perlulah mendidik jiwa dan hatinya untuk sentiasa rendah. Rendah di sini adalah merasa kerdil di hadapan Allah SWT. Ini untuk menjaga keikhlasan, mengelakkan diri dari riya’, ujub, takabbur.
    Riya’, ujub, takabbur, semua itu adalah hijab dalam amalan. Ia membuang keberkesanan penyampaian kita. Sifat-sifat mazmumah itu akan menyebabkan perjalanan penulisan kita juga terpesong. Nanti kita akan rasa cepat hendak membantah pendapat orang lain, tidak boleh ditegur, rasa senang nak menyalahkan orang dan sebagainya.

    Kerendahan hati sangat penting dalam menjamin kebersihan perjalanan penulisan kita.

    Apakah hati yang hitam mampu mencahayakan hati yang lain?

    Tips 3: Dahagakan Ilmu
    Kita tidak mencari ilmu seperti orang yang sudah kekenyangan. Maka kita akan rasa malas untuk menambah ilmu apabila kita rasa diri kita sudah penuh. Seorang penulis perlu sentiasa merasakan dirinya tidak cukup. Maka dia akan bergerak untuk mengisi dirinya dengan pelbagai ilmu.

    Ilmu penulisan, ilmu-ilmu asas kehidupan, ilmu bahasa, ilmu realiti, dan bermacam-macam ilmu lagi.

    Penulis perlu sedar bahawa, seseorang yang tidak mempunyai apa-apa, tidak akan mampu memberikan apa-apa.

    Maka seorang penulis perlu mempunyai ‘apa-apa’ untuk menulis.

    Amatlah penting bagi seorang penulis untuk mengekspansikan capaian ilmunya. Ilmu bukan sekadar di dalam kelas, di dalam buku teks. Bahkan seluruh kehidupan ini mampu dijadikan sumber ilmu pengetahuan. Semuanya boleh diambil dan diterjemahkan kepada idea.

    Banyak membuat kajian, banyak membuat pembacaan, banyak bertanya, banyak memerhati dan banyak berfikir. Ilmu-ilmu yang berjaya diraih, insyaAllah akan mampu menjadi ‘trigger’ kepada idea.

    Tips 4: Disiplin

    Tidak akan mampu seseorang itu menjadi penulis yang terbaik tanpa disiplin. Perlu ada disiplin dalam menulis. Perlu juga ada disiplin dalam mengimbangi kehidupan sebagai penulis dan sebagai pelajar, pekerja, anak, bapa, ibu dan sebagainya.

    Sebab itu, apa yang saya selalu lakukan dalam hal disiplin ini adalah JADUAL.

    Susun waktu. Sesungguhnya Allah tak akan memberikan manusia 24 jam sekiranya 24 jam itu tidak cukup untuk manusia. Tetapi manusialah yang tidak menggunakan 24 jam itu dengan sebaik-baiknya. Sebab itulah kita sering merasakan kita tidak mampu melaksanakan kerja.


    Tips 5: Istiqomah
    Seorang penulis yang terbaik itu, mencapai tahapnya yang tertinggi adalah apabila dia istiqomah. Bukannya bila pelawat website, blog sudah mencapai juta, dia mula bermalas-malasan.

    Orang kata, hendak menjadi juara itu tidak sesusah hendak mengekalkan kejuaraan.

    Penulis yang mampu menjadi contoh adalah penulis yang istiqomah.

    Istiqomah dalam penulisannya. Istiqomah pula dalam menjaga peribadinya dalam menjadi qudwah kepada ummah.

    Penutup

    Saya tak rasa gembira kalau pembaca membaca penulisan saya, kemudian dia rasa seronok-seronok,tanpa membawa apa-apa daripada penulisan saya ke dalam kehidupannya.

    Pada saya, seorang penulis itu bukan seorang penghibur.

    Penulis adalah yang membina ideologi ummah, memimpin pemikiran ummah.

    Justeru, penulis yang berjaya, adalah penulis yang penlisannya mampu memberikan kesan kepada kehidupan manusia.


    ~Hilal Asyraf ~

    ms.langitilahi.com