Wednesday, September 23, 2009

Shalat Seorang Musafir

Hari raya selalu identik dengan kegiatan pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan sanak keluarga atau yang dikenal dengan istilah ‘mudik’. Acapkali mudik tersebut harus ditempuh dengan perjalanan yang cukup jauh (safar). Seorang muslim yang baik tentu saja tidak akan melalaikan kewajiban utamanya untuk tetap beribadah pada Allah meski pun berada dalam kondisi safar yang melelahkan. Artikel berikut akan mengulas permasalahan sholat seorang musafir yang dikutip dari makalah karya Al Ustadz Abu ‘Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi – hafidzahullah- dalam Majalah Al Furqon edisi 11/tahun-8.

1. Meringkas Shalat

Meringkas shalat (qoshor) dimana shalat empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat ketika safar disyariatkan. Dalil-dalil tentang masalah ini di antaranya:
Allah berfirman:

وَاِذَاضَرَبْتُمْ فِى اْلاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلَوٰةِ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اِنَّ اْلكفِرِيْنَ كَانُوْالَكُمْ عَدُوًّامُّبِيْنًا

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qoshor sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. An Nisa’: 101)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أَنَّ الصَّلاَةَ أَوَّلُ مَافُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ،فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِوَأُتِمَّتْ صَلاَةُ الحَضَرِ

“Pertama kali sholat diwajibkan adalah dua raka’at, maka tetaplah sholat musafir dua raka’at dan shalat orang yang muqim (menetap) sempurna (empat raka’at).” (HR. Al Bukhari: 1090 dan Muslim:685)

Asy Syinqithi mengatakan, “Para ulama bersepakat atas disyariatkannya meng-qoshor sholat empat raka’at ketika safar. Berbeda dengan orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada qoshor kecuali ketika haji, umroh, atau ketika keadaan mencekam. sesungguhnya perkataan seperti ini tidak ada dasarnya menurut ahli ilmu.” (Adhwa’ul Bayan 1/265).

a. Shalat yang boleh diqoshor.

Merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama, shalat yang boleh diringkas adalah shalat Zhuhur, Ashar, dan ‘Isya’. Imam Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa sholat Maghrib dan Shubuh tidak boleh diqoshor.” (al-Ijma’ hal. 9)

b. Kapan seorang musafir boleh meringkas shalat?

Orang yang safar diperbolehkan meringkas shalatnya apabila telah berangkat dan meninggalkan tempat tinggalnya. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ بِالْمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ.

“Aku shalat bersama Nabi di Madinah empat raka’at dan di Dzulhulaifah dua raka’at.” (HR. Al Bukhari:1039 dan Muslim:690)

c. Apabila musafir bermakmum kepada muqim.

Kewajiban seorang musafir apabila bermakmum di belakang muqim adalah tetap shalat secara sempurna mengikuti imamnya berdasarkan keumuman hadits,
إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

“Sesungguhnya (seseorang) itu dijadikan imam untuk diikuti”. (HR. Al Bukhari:722 dan Muslim:414)

Dan juga para shahabat shalat di belakang Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau shalat di Mina empat raka’at, maka para shahabat tetap mengikutinya shalat empat raka’at. Oleh karena itu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika ditanya, “Mengapa seorang musafir kalau shalat sendirian dia shalat dua raka’at tetapi kalau shalat bersama imam dia shalat empat raka’at ?”, beliau menjawab, “Demikianlah sunnah Abul Qashim (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)” (Liqa’ Bab Maftuh hal. 40)

Mengomentari atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ini, Syaikh Al Albani rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa seorang musafir apabila bermakmum kepada muqim maka dia menyempurnakan dan tidak menqoshor. Ini merupakan madzhab imam yang empat dan selain mereka. Bahkan Imam Syafi’i menceritakan dalam Al Umm (1/159) kesepakatan mayoritas ulama akan hal itu dan disetujui oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/465).” (Silsilah Ahadits Shohihah 6/387)

d. Lupa shalat ketika safar dan ingat ketika muqim.

Kalau ada seorang musafir lalu dia ingat bahwa dia belum shalat Zhuhur – misalnya—ketika masih di rumah, apakah dia shalat qoshor dua raka’at (mengingat keadaan dirinya sekarang sebagai musafir) ataukah empat raka’at (karena keadaan ketika lupa adalah saat muqim)? Demikian juga sebaliknya, kalau ketika muqim teringat bahwa dia lupa belum shalat ketika dalam safarnya, apakah dia melakukannya qoshor ataukah menyempurnakan shalat?!

Masalah ini diperselisihkan para ulama. Akan tetapi yang benar – Wallahu a’lam – bahwa yang menjadi patokan adalah keadaan ketika dia lupa tersebut. Artinya, dia qoshor kalau shalat yang dia tinggalkan adalah ketika safar walaupun dia ingat ketika muqim. Begitu pula, dia tetap shalat secara sempurna kalau shalat yang dia tinggalkan adalah ketika muqim meskipun dia ingat ketika dalam keadaan safar. Dasarnya adalah keumuman hadits,

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa akan shalat atau tertidur maka hendaknya dia mengerjakannya ketika dia ingat.” (HR. Al Bukhari:572 dan Muslim:682)

e. Sudah qoshor dan jama’ kemudian tiba di kampung sebelum waktu shalat kedua.

Gambaran masalahnya, ada seorang musafir telah mengerjakan shalat zhuhur dan asar dengan qoshor di perjalanan. Kemudian sampai di rumah sebelum masuknya waktu shalat asar. Apakah dia berkewajiban untuk mengulang shalatnya? Jawabnya tidak harus karena dia telah menunaikan kewajibannya (Ta’liqot Syaikh Ibni ‘Utsaimin ‘ala Qowa’id Ibni Rojab 1/35).

2. Menjama’ (Menggabung) Dua Shalat

Termasuk kesempurnaan rahmat Allah bagi seorang musafir adalah diberi keringanan untuk menjama’ dua shalat di salah satu waktunya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَاْلعِشَاءِ

“Apabila dalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat Zhuhur dengan Asar serta Maghrib dengan ‘Isya’.” (HR. Al Bukhari:1107 dan Muslim:704)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Boleh menjama’ shalat Zhuhur dan Asar di salah satu waktu keduanya sesuai kehendaknya. Demikian pula shalat Maghrib dan ‘Isya’, baik safarnya jauh atau dekat.” (Syarh Shahih Muslim 6/331)

Imam Ibnu Qudamah rahimahulah berkata, “Boleh menjama’ antara Zhuhur dan Asar serta Maghrib dan ‘Isya’ pada salah satu waktu keduanya.” (Al Muqni’ 5/84)

Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat Zhuhur dengan Asar serta shalat Maghrib dengan ‘Isya’. Adapun shalat shubuh tidak boleh dijama’ dengan shalat yang sebelumnya atau sesudahnya. Demikian pula tidak boleh menjama’ shalat asar dengan maghrib. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ.

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berangkat sebelum matahari tergelincir maka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur hingga Asar kemudian menjama’ keduanya. Apabila beliau berangkat setelah Zhuhur maka beliau shalat Zhuhur kemudian baru berangkat.” (HR. Al Bukhari:1111 dan Muslim:704)

Adapun tatacara menjama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat dalam salah satu waktu, baik diakhirkan maupun dikedepankan. Misalnya shalat Zhuhur dan Asar dijama’ (digabung) dikerjakan pada waktu Zhuhur atau pada waktu Asar, keduanya boleh. Hendaklah adzan untuk satu kali shalat dan iqomah pada setiap shalat. yaitu satu kali adzan cukup untuk Zhuhur dan Asar dan iqomah untuk setiap shalat (HR. Al Bukhari: 629).

3. Shalat Berjama’ah (Terutama Bagi Laki-Laki)
Shalat berjama’ah tetap disyariatkan ketika safar. Bahkan para ulama mengatakan bahwa hukum shalat berjama’ah tidak berubah baik ketika safar maupun muqim berdasarkan dalil-dalil berikut:

a. Al Qur’an. Allah berfirman,

﴿وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآ ئِفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوۤاْ اَسْلِحَتَهُمْ ﴾

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata.” (Qs. An Nisa’: 102)

b. As-Sunnah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa tetap shalat berjama’ah ketika safar sebagaimana dalam kisah tertidurnya beliau bersama para shahabatnya ketika safar hingga lewat waktu shubuh. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al Bukhari:631. Lihat Syarh Al Mumthi’ 4/141)

4. Shalat di Atas Kendaraan

Pada asalnya, shalat wajib tidak boleh ditunaikan di atas kendaraan. Hendaknya dikerjakan dengan turun dari kendaraan sebagaimana perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkecuali dalam keadaan terpaksa seperti khawatir akan habisnya waktu shalat. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيْ الْمَكْتُوْبَةَ نَزَلَ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (sunnah) di atas kendaraannya ke arah timur. Apabila beliau hendak shalat wajib maka beliau turun dari kendaraan kemudian menghadap kiblat”. (HR. Al Bukhari : 1099).

Adapun tatacara shalat di atas kendaraan, baik itu pesawat, bus, kereta, atau kapal laut, adalah sebagai berikut:

Hendaklah shalat dengan berdiri menghadap kiblat apabila mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang shalat di atas perahu. Beliau menjawab,

صَلِّ قَائِمًا إِنْ لَمْ تَخَفْ اْلغَرَقَ

“Shalatlah dengan berdiri kecuali apabila kamu takut tenggelam.” (HR. Al Hakim 1/275, Daraqutni 1/395, Al Baihaqi dalam Sunan Kubro 3/155, dishahihkan oleh Al Albani dalam Ashlu Shifat Shalat Nabi 1/101)

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Hukum shalat di atas pesawat itu seperti shalat di atas perahu. Hendaklah shalat dengan berdiri apabila mampu. Jika tidak, maka shalatlah dengan duduk dan berisyarat ketika ruku’ dan sujud” (Ashlu Shifat Shalat Nabi 1/102).

Berusahalah tetap shalat berjama’ah (terutama bagi laki-laki). Apabila dalam kendaraan ada ruang yang bisa digunakan shalat berjama’ah maka shalatlah dengan berjama’ah walaupun hanya dua orang. Bila tidak, maka shalatlah berjama’ah dengan duduk.

Kerjakan shalat seperti biasa: niat dalam hati, takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca Al Fatihah, membaca surat dalam Al Qur’an, ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, lalu sujud. Bila tidak mampu ruku’, maka cukup dengan menundukkan kepala dan engkau dalam keadaan berdiri. Bila tidak mampu sujud, maka cukup dengan duduk seraya menundukkan kepala. Apabila shalatnya dikerjakan dalam keadaan duduk, maka ketika ruku’ dan sujud cukup dengan menundukkan kepala dan jadikan posisi kepala untuk sujud itu lebih rendah. (Majma’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin 15/250)

Demikian penjelasan sholat bagi musafir. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

***

Artikel muslimah.or.id

Saturday, August 29, 2009

Indahkah Malam Pertama Kita ?

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. ,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan kebaju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai diarak keliling kampung yang dihadiri tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin....
Berwalikan liang lahat..
Saksi-saksinya nisan-nisan.. . yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar.. pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian,
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama yang indah atau meresahkan..
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Sang Malaikat lalu bertanya.
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. ,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan kebaju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai diarak keliling kampung yang dihadiri tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin....
Berwalikan liang lahat..
Saksi-saksinya nisan-nisan.. . yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar.. pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian,
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama yang indah atau meresahkan..
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Sang Malaikat lalu bertanya.
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....

Friday, August 28, 2009

APAKAH ITU KEMERDEKAAN ?


KEMERDEKAAN memiliki keanekaragaman makna. Perisytiharan kemerdekaan 31 Ogos 1957 oleh Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj secara tidak langsung menerangkan apa makna kemerdekaan bagi tanah air. Ketika Tunku membacakan proklamasi kemerdekaan tersebut, barangkali apa yang difikirkan oleh sebahagian besar rakyat ketika itu adalah kemerdekaan daripada penjajahan kuasa asing.

Namun, apa makna kemerdekaan itu bagi rakyat Malaysia kini – yang merupakan tugas para generasi penerus untuk ‘menjawabnya’? Secara seimbas lalu, mungkin kita dapat perjelaskan secara mudah: bahawa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan kenegaraan yang sejati.

Apa makna kemerdekaan bagi kita? Sebagai kelompok terbesar daripada keseluruhan rakyat Malaysia, umat Islam seharusnya dapat mengutip makna kemerdekaan tersebut daripada al-Quran. Dalam kitab suci ini ditunjukkan pelbagai kisah kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat mengilhami kita, bagaimana seharusnya menjadi bangsa merdeka dalam era globalisasi ini.

Pertama, makna kemerdekaan dapat dipetik daripada kisah Nabi Ibrahim a.s ketika baginda membebaskan diri daripada orientasi asasi yang keliru dalam kehidupan manusia. Dalam surah al-An’am ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.

Pencarian spiritual tersebut merupakan usaha Nabi Ibrahim dalam membebaskan hidup daripada orientasi kehidupan yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya.

Sebagaimana diketahui, masyarakat yang melingkungi Ibrahim a.s ketika itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim a.s, peyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar kerana secara logiknya pun perbuatan itu membawa manusia kepada perlakuan penghambaan yang menjatuhkan harkat dan martabat diri mereka sendiri sebagai manusia.

Bentuk penghambaan yang menjatuhkan harkat-martabat manusia seperti itu juga terjadi pada era moden. Penghambaan terhadap materialisme dan hedonisme telah membawa manusia moden untuk melakukan pelbagai ‘kesalahan’ seperti rasuah tanpa rasa bersalah, mengorbankan nyawa-nyawa tidak berdosa, menghalalkan pelbagai cara untuk meraih kedudukan dan kekuasaan, dan seterusnya.

Penghambaan-penghambaan yang sedemikian itu bukan hanya melukai harkat-martabat manusia, malahan menghancurkan sendi-sendi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, yang hakikatnya menjadi intipati daripada perisytiharan kemerdekaan negara 51 tahun yang lalu.

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik daripada kisah Nabi Musa a.s ketika membebaskan bangsanya daripada penindasan Firaun. Kekejaman Firaun terhadap Bani Israil dikisahkan menerusi pelbagai ayat di dalam al-Quran. Firaun merupakan ‘bayangan masyarakat’ yang angkuh dan tamak akan kekuasaan di muka bumi.


Keangkuhan pemimpin atau penguasa seperti ini membuat mereka tidak segan silu membunuh dan memperhambakan kaum lelaki Bani Israil dan menistakan kaum wanitanya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa a.s tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri daripada penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (Al-A’raaf: 127, Al-Baqarah: 49, dan Ibrahim: 6)

Seperti halnya kisah kejayaan Nabi Musa a.s, perisytiharan kemerdekaan 31 Ogos 1957 hakikatnya juga merupakan catatan sejarah yang mengakhiri episod keangkuhan dan penindasan kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita terhina selama ratusan tahun.

Namun, usah lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rejim kolonialisme tidak serta merta membebaskan rakyat Malaysia daripada keangkuhan dan penindasan rejim lain dalam bentuk yang berbeza.

Tugas dan tanggungjwab terberat daripada sebuah bangsa merdeka sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan dirinya sebagai bangsa merdeka, serta bebas daripada hegemoni dalaman dan luaran yang menindas. Merdeka daripada hegemoni penindasan dalaman bererti bebas daripada pemimpin-pemimpin dan kelompok-kelompok tertentu yang berpengaruh, yang bertindak dan bertingkah laku laksana penjajah asing yang lupa akan perjuangan orang-orang terdahulu dan ‘tidak segan silu’ berusaha merombak ‘keharmonian’ hidup masyarakat.

Kita memerlukan pemimpin yang sayang dan cinta kepada rakyat dan negaranya sendiri. Tidak hanya cinta sebatas di bibir, namun juga mencintai dan menzahirkannya dalam bentuk dan tindakan yang nyata.

Merdeka daripada hegemoni luaran pula ertinya bebas daripada pengaruh dan tekanan asing (terutama di bidang politik, ekonomi, dan budaya). Bangsa yang merdeka, namun di bawah tekanan politik negara lain, sesungguhnya bukan bangsa yang merdeka. Bangsa yang merdeka, tetapi menyerahkan pengelolaan sumber alamnya kepada pihak asing tanpa pengagihan yang adil, bukan pula bangsa yang merdeka.

Bangsa yang merdeka, namun sangat inferior terhadap identiti budaya bangsa lain, bukan pula bangsa yang merdeka. Kemerdekaan bagi bangsa Malaysia haruslah kemerdekaan yang holistik dan integral dalam pelbagai aspek kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Ketiga, kisah kejayaan Nabi Muhammad s.a.w dalam menggalas misi dakwah baginda di muka bumi (Al-Maa’idah: 3) menjadi sumber ilham yang tidak pernah putus atau usang bagi bangsa Malaysia untuk memaknakan kemerdekaan secara lebih holistik dan integral.

Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad s.a.w menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekali gus: kecelaruan atau kekeliruan hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.

Kecelaruan hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah berjuang keras mengajar kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan ‘’tuhan-tuhan’’ yang secara terang-terang perlakuan itu menjeruskan harkat dan darjat manusia (Luqman: 13; Yusuf: 108; Az-Dzaariyaat: 56; Al- Jumu’ah: 2).

Penindasan ekonomi itu dilukiskan di dalam al-Quran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar dan berlingkar pada kelompok-kelompok tertentu sahaja (Al-Hasyr: 7). Rasulullah s.a.w mengkritik orang-orang yang mengumpul dan menghitung-hitung harta tanpa mempedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (Al-Humazah: 1-4; Al-Maa’uun: 2-3).

Rasulullah s.a.w memperjuangkan pembebasan perhambaan, kesaksamaan lelaki dan perempuan, dan persamaan antara manusia. Dalam khutbah terakhir baginda di Arafah, baginda menegaskan bahawa tidak ada perbezaan antara hitam dengan putih, antara Arab dengan bukan Arab.

Semuanya sama di hadapan Allah s.w.t. Tidak ada sisi atau sudut yang membezakan suatu kelompok manusia dengan manusia lainnya, melainkan tingkat ketakwaan mereka kepada Maha Pencipta (Al-Hujuraat: 13).

Apa makna kemerdekaan bagi kita? Sebagai kelompok terbesar daripada rakyat Malaysia, umat Islam seharusnya dapat memetik, mengambil, menggali (atau apa istilah sekalipun yang seumpamanya) makna kemerdekaan tersebut daripada al-Quran.

FAKTA RINGKAS MESIR & MANSURAH


NAMA RASMI NEGARA : Junhuriah Misr Al ‘Arabiah @ Arab Republic of Egypt, (anggota tetap Liga Arab mulai 22 Mac 1946)
IBU KOTA : Kaherah
MERCU TANDA : Cairo Tower
KOD TELEFON : 007 – 202 -......
LOKASI : Terletak di Benua Afrika, Latitut : 30.03 N (Utara) Longtitut : 31.15 E (Timur)
KELUASAN : 386,660 batu persegi
Batas Darat : 1,671,2 batu persegi
Garis Pantai : 1,522,7 batu persegi

SEMPADAN NEGARA :
1- Mesir ke Israel : 225 km
2- Mesir (Matruh) ke Libya : 1,150 km
3- Mesir (Halayib) ke Sudan : 12,273 km

JARAK DIANTARA MESIR DAN MALAYSIA : 4,939 batu (8,230 km)

PERBEZAAN MASA
: 5 jam pada musim panas
: 6 jam pada musim sejuk

MUSIM :
1- Musim Panas ( Jun –Ogos )
2- Musim Gugur ( Sept – November )
3- Musim Sejuk ( Disember – Februari )
4- Musim Bunga ( Mac – Mei )

SUHU TERTINGGI : + 43 Calcius
SUHU TERENDAH : + 5 Calcius
BAHASA PENGHANTAR : Bahasa Arab, Bahasa Inggeris, dan Perancis turut dipertuturkan dalam urusan rasmi, komunikasa, dan pembelajaran.
LAGU KEBANGSAAN : Bilady, Bilady, Bilady
AGAMA ANUTAN : Muslim ( Sunni ) 94 %, Lain-lain agama 6 %
ETNIK : Arab, Qibti, Noubi ( Selatan Mesir ), Circassia ( keturunan Asia Tengah ) dan lain-lain.

KOMPOSISI PENDUDUK
Sebahagian besar penduduk Mesir mendiami Tebing Timur Sungai Nil kerana factor sejarah dan geografi. Faktor sejarah kerana bangsa Mesir kuno menyembah matahari, mereka beranggapan bahawa matahari yang terbit dari timur adalah simbol kehidupan, semantara di barat pula adalah simbol kematian. Disebabkan itu Firaun dikebumikan di Tebing Barat Sungai Nil, sementara bandar-bandar dan kampong dibina di belahan Timur. Lantaran itu juga Piramid yang menjadi kuburan Firaun, Candi-Candi di Karnak, Dandara dan lain-lain tempat ibadat Mesir kuno dibina di tebing barat Nil.Faktor geografi pula kerana Sungai Nil memisahkan antara Barat dan Timur. Belahan timur adalah kawasan pertanian yang subur dan sesuai bagi penempatan manusia sama ada di Bandar atau kampung.

KEPENDUDUKAN :
Jumlah penduduk : 58,862,647 ( 1994 )
Nisbah doktor bagi setiap penduduk : 1 : 1,320
Kadar celek huruf : 40 % ( 60 % buta huruf - 1996 )
Kadar kelahiran bayi : 2.2 %
Kadar kematian bayi : 41 %
Jangka hayat penduduk : 64 tahun
Kadar pertambahan penduduk : 58.9 %
Kadar pertumbuhan penduduk di Bandar : 44 %

MAKANAN ASASI : Gandum, ( roti isy ), nasi dan lain-lain
SISTEM PEMERINTAHAN : Republik
PRESIDEN : Mohd Husni Mubarak ( sejak tahun 1981 )
PARTI-PARTI POLITIK UTAMA :
National Democratik Party ( NDP )
Socialist Liberal Party
Socialist Labor Party
National Progressive Unionist Grouping
Umma Party

HARI KELEPASAN UMUM :
Sammu Nasim - April
Tahrir Sina ( Pembebasan Sina ) – 24 April
Saurah ( Revolusi ) – 23 Julai
Wafa’ Al-Nil – Pertengahan Bulan Ogos
Hari Tentera – 6 Oktober
Perayaan Bandar Suez dan Kebangkitan Rakyat – 23 Oktober
Hari Raya Aidil Fitri
Hari Raya Aidil Adha
Maulidul Rasul
Awal Muharam

HASIL PERTANIAN : Tebu, Tomato, Jagung, Gandum, Padi, Kapas, Kurma, Barli dan lain-lain.
BAHAN GALIAN UTAMA: Petroleum, Gas asli, Bijih Besi dan lain-lain.
PERINDUSTRIAN UTAMA: Pembuatan Simen, Baja, Aluminium, Kapas, Gula dan lain-lain.
PENTERNAKAN: Kambing, Kibas, Unta, Ayam, Itik dan lain-lain.
PENGAIRAN: Sungai Nil (Terpanjang di dunia, 4161 batu)

FAKTA RINGKAS MANSURAH
Mansurah sebuah bandar yang mencatatkan peristiwa dan kesan sejarah, meliputi dinasti Firaun, pemerintahan Rom, perkembangan ajaran Kristian dan kemasukan Islam. Mansurah antara yang dikenali sebagai sebuah kuasa besar dalam tamadun Islam di rantau benua Afrika.Sejarah silamnya boleh disimpulkan seperti Berikut :

1.Istana firaun dan perkampungan Yahudi.

Zaman pemerintahan Firaun Ramsis II telah membina ibu negeri bagi mengawal pemerintahannya di sebelah barat dan persisiran pantai Mesir. Kubu Firaun ini juga terbina dengen lorong bawah tanah bagi batalion askar Firaun ketika itu. Antara yang terpenting adalah kesan runtuhan kota Firaun yang terletak 7 km dari Simbilawin. Tempat ini merupakan kota pemerintahan Ramsis II dan anaknya Munqa'. Mansurah pernah didiami oleh kaum Yahudi berdasarkan kesan perkampungan mereka di sekitar Mansurah.

2.Dinasti Rom.

Pemerintahan Dinasti Rom banyak terdapat kesannya di daerah Bilqas. Terdapat beberapa tugu, rumah ibadat dan bianaan lain yang ditinggalkan sebagai tinggalan sejarah.

3.Sejarah perkembangan ajaran Kristian.

Mansurah dikenali sebagai rumah suci dan kota peribadatan bagi pengikut ajaran Masihi. Di sebelah utara Mansurah terdapat kubur seorang Hawariyyun Nabi Isa a.s. bernama Ajarjis. Beliau mengembangkan ajaran Kristian bagi rantau Afrika ; Mesir, Uthopia, Sudan, Nigeria dan Kenya. Pada tanggal 23 September setiap tahun diadakan raptai ulangtahun pembaptisan bumi Mesir sebagai bumi Al-Masih dengan kedatangan Majarjis, yang mana gereja Majarjis adalah gereja yang tertua di Mansurah.

4.Kemasukan Islam dan tamadun ilmu.

Kemasukan sejarah Islam ke pelusuk Mansurah melalui pantai ‘Arish di bawah pimpinan Komander Amru Bin Al-As (radiyallahu anh), zaman Khalifah Amir Al-Mukminin Umar Al–Khattab (radiyallahu anh) dan batalion Qa’-Qa’ At-Tamimi (radiyallahu anh) yang membuka kota Iskandariah dan pusat pemerintahan Rom.Nama “ al-Mansurah” diambil sempena kemenangan Umat Islam dalam menentang Tentera Salib.

Nama tersebut membawa maksud "suatu pertolongan daripada Allah s.w.t.". Ia diasaskan sebagai ibu negeri Dakahliah oleh Raja Kamil al-Ayyubi pada tahun 1219 M.Sebagai tanda memperingati jasa dan bakti mujahidin yang gugur dalam perjuangan menyebarkan syiar islam, sebuah tugu peringatan dibina bagi para syuahada yang terpahat kukuh nama-nama mereka di batu tersebut. Ianya terletak dipersimpangan jalan menuju ke Gedela dan di sana juga terdapat Taman Haiwan Mansurah.Terdapat sebuah muzium di medan Sikkah Jadidah yang dikenali sebagai "Dar Ibn Luqman". Kawasan tersebut penah menjadi tempat tahanan Raja Louis IX ketika berlakunya perang salib di Mesir. Rakyat Daqahliah juga memainkan peranan dalam gerakan revolusi Islam pada 1919.

Mansurah telah melahirkan beberapa tokoh agamawan yang terkenal di seluruh dunia. Antaranya Almarhum Syeikh Muhammad Al-Ghazali, ahli intelektual Islam; Almarhum syeikh Khalid Muhaamad Khalid, seorang mufakkir Islam; Almarhum Syeikh Jad Al-Haq, mantan Syeikhul Azhar; Almarhum Syeikh Mutawalli As-Sya'rawi, seorang ulama Mesir; Almarhum Syeikh Muhammad Abdul Rahman dan lain-lain lagi.


Jom baca ini juga ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Anda Dihargai... Terima Kasih :)

Siapakah Penulis Yang Baik?

Penulis yang baik adalah yang penulisannya memberikan kesan kepada jiwa insan. Seterusnya, penulis itu mampu menjadi inspirasi, contoh, qudwah kepada pembacanya.

Akhirnya sekali, dia tidak akan hanya tersekat dalam alam penulisan, bahkan di alam realiti dia tetap mampu menjadi satu model kepada ummat.

Penulis Yang Terbaik

Tips 1: Hubungan Dengan Allah SWT

Ya, hubungan dengan Allah SWT. Seorang yang hendak menjadi penulis yang terbaik perlulah menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Mencintai perintah-Nya dan melaksanakannya. Membenci kemungkaran ke arah-Nya dan mencegahnya. Tidak melekatkan diri kepada apa yang Allah murka dan sentiasa berusaha mempertingkatkan kualiti diri di hadapan-Nya.

Kenapa hubungan dengan Allah SWT itu diletakkan yang pertama?

Banyak sebab. Tapi, antara sebab yang utama adalah, kita hendak menulis sesuatu yang memberi kesan pada jiwa insan. Justeru, apakah logik kita tidak meminta kepada Yang Membolak Balikkan Jiwa Insan? Kita perlu sedar bahawa, Allahlah TUAN kepada Hidayah. Bukankah adalah perkara yang normal kita tunduk kepada-Nya agar dia membantu kita? Sedang kita ini tidak mampu memberikan hidayah walau kepada orang yang kita cintai.


Sesungguhnya kau tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai, tetapi Allah lah yang memberikan hidayah kepada sesiapa yang dia kehendaki…” Surah Al-Qasas ayat 56.

Tips 2: Kerendahan Hati
Seorang yang ingin menggerakkan dirinya menjadi penulis yang baik, perlulah mendidik jiwa dan hatinya untuk sentiasa rendah. Rendah di sini adalah merasa kerdil di hadapan Allah SWT. Ini untuk menjaga keikhlasan, mengelakkan diri dari riya’, ujub, takabbur.
Riya’, ujub, takabbur, semua itu adalah hijab dalam amalan. Ia membuang keberkesanan penyampaian kita. Sifat-sifat mazmumah itu akan menyebabkan perjalanan penulisan kita juga terpesong. Nanti kita akan rasa cepat hendak membantah pendapat orang lain, tidak boleh ditegur, rasa senang nak menyalahkan orang dan sebagainya.

Kerendahan hati sangat penting dalam menjamin kebersihan perjalanan penulisan kita.

Apakah hati yang hitam mampu mencahayakan hati yang lain?

Tips 3: Dahagakan Ilmu
Kita tidak mencari ilmu seperti orang yang sudah kekenyangan. Maka kita akan rasa malas untuk menambah ilmu apabila kita rasa diri kita sudah penuh. Seorang penulis perlu sentiasa merasakan dirinya tidak cukup. Maka dia akan bergerak untuk mengisi dirinya dengan pelbagai ilmu.

Ilmu penulisan, ilmu-ilmu asas kehidupan, ilmu bahasa, ilmu realiti, dan bermacam-macam ilmu lagi.

Penulis perlu sedar bahawa, seseorang yang tidak mempunyai apa-apa, tidak akan mampu memberikan apa-apa.

Maka seorang penulis perlu mempunyai ‘apa-apa’ untuk menulis.

Amatlah penting bagi seorang penulis untuk mengekspansikan capaian ilmunya. Ilmu bukan sekadar di dalam kelas, di dalam buku teks. Bahkan seluruh kehidupan ini mampu dijadikan sumber ilmu pengetahuan. Semuanya boleh diambil dan diterjemahkan kepada idea.

Banyak membuat kajian, banyak membuat pembacaan, banyak bertanya, banyak memerhati dan banyak berfikir. Ilmu-ilmu yang berjaya diraih, insyaAllah akan mampu menjadi ‘trigger’ kepada idea.

Tips 4: Disiplin

Tidak akan mampu seseorang itu menjadi penulis yang terbaik tanpa disiplin. Perlu ada disiplin dalam menulis. Perlu juga ada disiplin dalam mengimbangi kehidupan sebagai penulis dan sebagai pelajar, pekerja, anak, bapa, ibu dan sebagainya.

Sebab itu, apa yang saya selalu lakukan dalam hal disiplin ini adalah JADUAL.

Susun waktu. Sesungguhnya Allah tak akan memberikan manusia 24 jam sekiranya 24 jam itu tidak cukup untuk manusia. Tetapi manusialah yang tidak menggunakan 24 jam itu dengan sebaik-baiknya. Sebab itulah kita sering merasakan kita tidak mampu melaksanakan kerja.


Tips 5: Istiqomah
Seorang penulis yang terbaik itu, mencapai tahapnya yang tertinggi adalah apabila dia istiqomah. Bukannya bila pelawat website, blog sudah mencapai juta, dia mula bermalas-malasan.

Orang kata, hendak menjadi juara itu tidak sesusah hendak mengekalkan kejuaraan.

Penulis yang mampu menjadi contoh adalah penulis yang istiqomah.

Istiqomah dalam penulisannya. Istiqomah pula dalam menjaga peribadinya dalam menjadi qudwah kepada ummah.

Penutup

Saya tak rasa gembira kalau pembaca membaca penulisan saya, kemudian dia rasa seronok-seronok,tanpa membawa apa-apa daripada penulisan saya ke dalam kehidupannya.

Pada saya, seorang penulis itu bukan seorang penghibur.

Penulis adalah yang membina ideologi ummah, memimpin pemikiran ummah.

Justeru, penulis yang berjaya, adalah penulis yang penlisannya mampu memberikan kesan kepada kehidupan manusia.


~Hilal Asyraf ~

ms.langitilahi.com